Selasa, 03 November 2026

KPK mendalami aliran uang swasta kepada pihak-pihak di BNPB

 

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendalami aliran uang dari pihak swasta kepada pihak-pihak yang bekerja di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Juru Bicara KPK Budi Prasetyo mengatakan pendalaman tersebut dilakukan terhadap sejumlah saksi kasus dugaan korupsi dana siap pakai BNPB untuk penanganan bencana pada Senin ini. “Para saksi didalami pengetahuannya terkait dugaan aliran uang kepada oknum di BNPB,” kata Budi kepada para jurnalis di Jakarta, Senin. Adapun para saksi tersebut terdiri atas SKS, FMA, PBW, DWK, ANS, dan AP selaku pihak swasta, serta RAB selaku ibu rumah tangga.

Sementara nama pihak swasta berinisial NR tidak tercantum dalam data kehadiran saksi KPK hingga pukul 13.02 WIB. Kasus tersebut bermula saat KPK melakukan operasi tangkap tangan (OTT) di BNPB dengan menangkap 15 orang pada 13 Oktober 2026. Sehari setelahnya, KPK menetapkan lima orang sebagai tersangka kasus tersebut.

Salah satunya, Bima Setiawan selaku adik Letnan Jenderal TNI Suharyanto yang saat OTT berlangsung menjabat Kepala BNPB. Bima juga merupakan Tenaga Ahli Kepala BNPB saat Suharyanto aktif menjabat.

Kemudian, empat orang tersangka lainnya adalah pejabat pembuat komitmen sekaligus Kepala Subdirektorat Pengelolaan Bantuan dan Dana Kedaruratan BNPB Gabriel Purwaka Sigit, Tenaga Ahli Kepala BNPB Richard Erlangga, Direktur PT Trans Lintas Selaras Gery Prasetiawan, serta pihak swasta Syifa Nrika Ghifarin.

Pada 16 Oktober 2026, KPK menyita barang bukti senilai Rp5,47 miliar yang terdiri atas 7.500 dolar Amerika Serikat, 9.000 dolar Singapura, Rp3,35 miliar, 56 keping emas dengan total berat 133 gram dengan nilai mencapai Rp315,8 juta, tabungan emas seberat 192 gram senilai Rp452 juta, serta aset kripto sejumlah Rp1,10 miliar.

selain itu, KPK telah menggeledah ruangan Kepala BNPB dan sejumlah ruangan lainnya di Kantor BNPB setelah menetapkan tersangka kasus tersebut. Di sisi lain, KPK telah memberitahukan Pusat Polisi Militer (Puspom) TNI mengenai peran Suharyanto. KPK kemudian pada 20 Oktober 2026 bersurat kepada Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto mengenai dua prajurit aktif yang diduga terlibat kasus tersebut.

Minggu, 01 November 2026

Pelaku Penembakan dan Pembacokan di Kampung Ambon Terancam 15 Tahun Bui


 Pelaku penembakan dan pembacokan yang mengakibatkan tiga orang terluka di dekat Kampung Ambon, Jakarta Barat, FDM, telan ditangkap Polda Metro Jaya. FDM terancam 15 tahun hukuman penjara. Terhadap Tersangka, penyidik menerapkan Pasal 262 ayat 3 Undang-Undang Nomor 1

Tahun 2023 tentang KUHP terkait tindak pidana kekerasan secara bersama-sama di muka umum yang mengakibatkan luka berat dengan ancaman pidana penjara paling lama 9 tahun," jelas Dirkrimum Polda Metro Jaya Kombes Imron Ermawan saat jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Sabtu (31/10/2026)."Pasal 306 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP terkait tindak pidana

kepemilikan atau penguasaan senjata api tanpa hak dengan ancaman pidana penjara paling lama 15 tahun lamanya.Imron menyampaikan motif FDM melancarkan aksinya. Dia menyebutkan aksi yang dilakukan FDM dilandasi rasa dendam. ‚Peristiwa ini dilatarbelakangi oleh motif balas dendam. Sekali lagi, motif balas dendam.

Tersangka berinisial FDM merasa tidak terima setelah mengalami pemukulan oleh sekelompok orang," imbuh dia. Imron menerangkan pelaku dalam melakukan aksinya terlebih dahulu mengumpulkan teman-temannya. Pelaku melakukan penembakan terhadap kelompok yang dirasa telah memukulinya bersama teman-temannya.

Setibanya di lokasi, kelompok tersebut melakukan penyerangan secara bersama-sama dengan menggunakan senjata tajam dan senjata api," imbuhnya. Kasus penembakan dan pembacokan yang mengakibatkan tiga orang terluka di dekat Kampung Ambon, Jakarta Barat, terungkap. Pelaku berinisial FDM menyerahkan diri ke polisi.

iDalam penanganannya, Ditreskrimum Polda Metro Jaya telah mengamankan satu orang pelaku dengan inisial FDM, dan diamankan pada tanggal 15 Oktober, jadi satu hari setelah kejadian," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto dalam konferensi pers di Mapolda Metro Jaya, Sabtu (31/10).Budi Hermanto mengatakan saat ini penyidik masih melakukan pencarian terhadap pelaku

lainnya. Dalam perkara ini, polisi menyita sejumlah barang bukti.Sementara itu, Dirkrimum Polda Metro Jaya Kombes Imron Ermawan mengatakan pelaku berinisial FDM diamankan oleh tim gabungan Subdit Resmob, Subdit Jatanras, dan Subdit Ranmor Ditreskrimum Polda Metro Jaya dalam waktu 24 jam setelah kejadian.  FDM, setelah dikejar, dicari, dan kami sudah mencari berbagai titik di Jakarta, alhamdulillah termasuk dari informasi yang ada," kata Kombes Ermawan.

iFDM melalui perantara-perantara menyerahkan diri kepada petugas Krimum Polda Metro Jaya di daerah wilayah Duren Tiga, Pancoran, Jakarta Selatan, dengan menyerahkan satu pucuk senjata api rakitan beserta dua butir amunisi," sambung Imron. Peristiwa tersebut terjadi pada Rabu, 14 Oktober 2026 sekitar pukul 15.30 WIB di Jalan Pinggir Kali, Kalibaru Timur, Kelurahan Kapuk, Kecamatan

Cengkareng, Jakarta Barat.Dari hasil pengungkapan tersebut, penyidık mengamankan sejumlah barang bukti antara lain sepucuk senjata api rakitan, 2 butir peluru kalıber 9 mm, 1 butir amunisi, 1 butir selongsong, dan 1 butir proyektil. Saat ini Polda Metro Jaya masih melakukan pengejaran terhadap satu pelaku lainnya yang telah ditetapkan dalam daftar pencarian orang (DPO). Identitas pelaku telah dikantongi polisi.

Jumat, 30 Oktober 2026

Wakapolda Temui Mahasiswa di Bundaran HI, Apresiasi Unjuk Rasa Berlangsung Tertib


 Wakapolda Metro Jaya Irjen Adex Yudiswan sempat bertemu dengan sejumlah mahasiswa yang turut demo di Bundaran HI, Jakarta Pusat. Dalam kesempatan itu, Adex menyampaikan apresiasi karena kegiatan penyampaian aspirasi berlangsung tertib.  Momen tersebut terjadi di depan Pos Polisi

(Pospol) Thamrin, Rabu (28/10/2026). Saat itu, Adex tengah mengecek personel kepolisian yang masih bertugas di lapangan lalu didatangi sekitar lima mahasiswa yang mengajaknya berbincang. 'Jadi kita mengucapkan terimakasih atas

tertibnya teman-teman mahasiswa melakukan unjuk rasa, kita apresiasi," kata Adex saat berbincang dengan mahasiswa di depan Pospol Thamrin, Rabu (28/10/2026).Adex mengatakan kepolisian turut melakukan pengamanan untuk memastikan aksi demonstrasi berlangsung aman dan tertib. Dia juga menyebut penyampaian pendapat dapat dilakukan melalui berbagai saluran, termasuk media sosial.

'Supaya aman dan berjalan tertib, makanya dibuat ada tempat-tampatnya. Sekarang kan zamannya udah pake teknologi, penyampaian pendapat bisa di medsos,i ungkapnya.Setelah berbincang, Adex menanyakan tujuan mahasiswa tersebut setelah aksi berakhir. Salah seorang mahasiswa menyebut mereka hendak pulang ke kawasan Cimanggis.

Adex kemudian menawarkan bantuan transportasi dengan menyediakan taksi untuk mengantar para mahasiswa ke rumah masing-masing. Dia mempersilakan mereka pulang dan menyatakan akan membayar ongkos perjalanan tersebut.

Selasa, 27 Oktober 2026

Komisi X Minta Aparat Cek Unsur Pidana Bullying 13 Siswi SMP Ciputat: Ekstrem


Ketua Komisi X DPR RI Agung Widyantoro menyoroti belasan siswa SMPN 10 Ciputat, Tangerang Selatan, diduga di-bully kakak kelas dengan dipaksa meminum kopi campur cuka. Agung menilai perilaku tersebut sangat ekstrem. 'Saya rasa ini pola permainan yang menurut

pandangan kami selaku Ketua Komisi X, sangat ekstrem ya, dan tidak semestinya dilakukan dalam lingkungan pendidikan," kata Agung di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta.Menurutnya, masih banyak hal lain yang bisa dilakukan yang lebih sehat. Jika ada unsur pidananya, Agung meminta aparat melakukan pengusutan.

'Dan karena ini sudah menyangkut perilaku yang bisa jadi ada unsur-unsur pidananya, maka kami dari Komisi X selaku ketua, berharap agar aparat penegak hukum bisa menindak sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku," ujarnya. Namun perlu dijunjung asas praduga tak bersalah pada terduga pelaku. Terlebih lagi jika terduga pelakunya masuk kategori anak.

¿'Serta kita memperhatikan apa, tingkat usianya, ya. Jikalau masih dalam kategori anak-anak, maka setidaknya harus berprinsip pada bagaimana mengedepankan anak-anak yang berurusan dengan hukum," ucap dia.iDan juga sekali lagi, hukum ini bukar balas dendam, tetapi lebih kepada pe agar menimbulkan efek jera," tambahny..

Seperti diketahui, belasan siswa SMPN 10 Ciputat diduga menjadi korban perundungan atau bullying kakak kelas. Mereka dipaksa mengıkuti tantangan, yang kalah diminta meminum kopi campur cuka.

Kasus perundungan ini diungkap Kapolsek Ciputat Timur Kompol Bambang Askar Sodiq. la awalnya menerima informasi dugaan perundungan tersebut dari masyarakat. Pihaknya kemudian melakukan pengecekan. "Kita mendapatkan korban perundungan itu ada 13 siswi. Nah, ini cewek-cewek nih. Ini cewek-cewek, yang dilakukan oleh senior kelas mereka. Jadi kelas 3 kepada kelas di bawahnya," jelas

Kapolsek Ciputat Timur Kompol Bambang Askar Sodiq saat dihubungi, Sabtu (24/10).Bambang mengungkap perundungan ini diduga dilakukan di luar sekolah. Yakni di salah satu warung di luar area sekolah.Kejadiannya itu bukan di area dalam sekolah di

wilayah area SMPN 10 Ciputat yang ada di Pondok Ranji, itu bukan. Tetapi kejadiannya itu di luarnya," terang Bambang. Bambang menjelaskan para korban diduga dipaksa mengikuti tantangan yang diberikan kakak kelasnya. Siswi yang kalah diminta meminum campuran kopi, cuka, dan bawang putih.

(Pakai cara) challenge. Misalnya kan, 'Lu, junior kan? Challenge nih'. Kalau ada yang kalah atau salah, langsung suruh minum itu. Informasi awal, itu kayak kopi liong dicampur cuka, dicampur bawang putih," tutur Bambang.3 Orang Dilarikan ke RS Bambang menyebut dari 13 siswi yang diduga

menjadi korban, tiga orang dilaporkan menjalani perawatan di rumah sakit karena mengalami sakit perut.Bambang menjelaskan pihaknya telah mengarahkan pihak keluarga korban melalui pendampingan UPTD serta sekolah jika ingin membuat laporan bisa langsung ke Unit PPA-PPO Polres Tangerang Selatan. Silakan nanti kalau mau buat laporan ke Unit PPA

Satreskrim Polres Tangsel. Tapi ada UPTD yang dampingin, bahkan dari pihak guru bimbingan konselingnya mendampingi gitu," ujarnya. Korban Dipalak

Selain itu, Bambang mengungkapkan 13 korban juga dipalak. Masing-masing siswi memberikan jumlah uang yang berbeda saat dipalak.

"Ini juga ada yang informasi, selain dipaksa untuk mengonsumsi minuman, juga ada yang dilakukan ini, pemalakan. Misalnya disertai permintaan uang ke junior-junior itu, dimintain Rp 5.000 sampai Rp 10.000 ucap Bambang.Adapun terduga pelaku perundungan, kata Bambang, teridentifikasi satu orang yang merupakan kakak kelas perempuan dari para korban. "Yang saya tahu satu," terang Bambang.

Sabtu, 24 Oktober 2026

Bobby Nasution Apresiasi Polri Ungkap Penyelundupan 1,16 Ton Ketamin





Gubernur Sumatera Utara, Muhammad Bobby Afif Nasution, mengapresiasi kehadiran Kapolri, Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto, di Belawan, Kota Medan, dalam rangka pengungkapan kasus penyelundupan 1,16 ton narkoba jenis ketamin. Bobby menilai kehadiran Kapolri turut menambah semangat Forkopimda dalam memberantas narkoba di Sumatera Utara.

"Mohon izin Pak Kapolri, kami menyampaikan selamat datang di Sumatera Utara, di Kota Medan, tepatnya di Belawan. Ini Belawan, salah satu daerah yang memang sangat cocok sekali Pak Kapolri hadir, karena kehadiran Pak Kapolri di Belawan ini mudah-mudahan menambah semangat bagi para kami, khususnya Forkopimda, TNI, Polri, dan pemerintah daerah, berantas narkoba. Karena Belawan ini salah satu memang tempat yang sangat masif dari beberapa daerah yang ada di Sumatera Utara," ujar Bobby dalam keterangan tertulis, Sabtu (24/10/2026).

"Oleh karena itu, mudah-mudahan kehadiran Pak Kapolri di sini membawa Belawan semakin lebih cerah lagi ke depannya, bisa menjadi daerah yang hari ini mungkin dianggap salah satu daerah yang paling banyak penggunaan narkobanya. Mudah-mudahan setelah kedatangan Pak Kapolri, ini salah satu daerah yang paling bersih dari narkobanya," sambung Bobby.Hal itu disampaikan Bobby saat acara press release pengungkapan penyeludupan 1,16 Ton ketamine sekaligus Deklarasi Posisi Bersama Masyarakat Sumut Tolak Narkoba di Terminal Bandar Deli Belawan, Jumat (23/10).

Bobby juga mengucapkan terima kasih dan mengapresiasi Kapolri atas penangkapan 1,16 ton narkoba yang akan masuk ke Indonesia melalui Sumatera Utara. Menurutnya, hal tersebut merupakan satu tindakan yang sangat perlu diapresiasi. Pasalnya, tindakan ini telah menyelamatkan banyak nyawa, banyak pemuda, dan calon-calon generasi Indonesia Emas 2045.

Bobby mengungkapkan Sumatera Utara mempunyai tantangan yang lebih jauh, lebih besar dibandingkan daerah lain. Lebih dari 5 tahun berturut-turut, Sumatera Utara menjadi daerah dengan prestasi nomor satu pengguna narkoba di tingkat nasional.

"Nah, cita-cita kami kalau bisa turun dari peringkat satu, Pak. Jangan di tiga besar, jangan di lima besar, kalau bisa paling bontot, justru kalau bisa seluruh narkoba yang ada di Indonesia ini bisa hilang, agar apa? Agar Indonesia Emas 2045, salah satu kendalanya yang menghalangi adalah narkoba, ini benar-benar bisa hilang di wilayah Indonesia, khususnya di Sumatera Utara," harapnya.

Bobby juga mengutarakan rasa geramnya atas kejahatan narkoba saat menjadi Wali Kota Medan. Bahkan, ia meminta kepolisian agar pengguna narkoba yang melakukan kejahatan, seperti begal, diberi tindakan terukur.

"Pak, dulu pada saat kami di Medan, mohon maaf, Pak, saking geramnya, kalau bahasa ini geram, saking keselnya, Pak, dengan penyalahgunaan narkoba, maraknya narkoba di wilayah Medan, Sumatera Utara, dulu kami pernah menyatakan, minta tindak tegas saja, untuk penyalahgunaan narkoba yang beraksi di jalanan, yang membegal dan yang lain," sebutnya. Namun, Bobby meyakini Kepolisian Republik Indonesia, khususnya Polda Sumatera Utara, bersama seluruh lapisan masyarakat dan pemerintah daerah siap membongkar narkoba di Sumatera Utara ke depannya.

"Sehingga nanti Sumatera Utara bisa turun posisinya dari peringkat pertama dengan penyalahgunaan narkoba, bisa turun ya minimal-minimal bisa keluar dari lima besar penyalahgunaan yang ada di Indonesia," pungkasnya.

Jumat, 23 Oktober 2026

Prabowo Cari KDM di Rakornas TPAKD: Yang Paling Dekat Nggak Hadir


Presiden Prabowo Subianto
mengabsen gubernur dan wakil gubernur yang hadir dalam Rakornas Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) 2026. Prabowo mencari gubernur yang tak hadir dan meminta
untuk dicatat.
Acara tersebut digelar di Jiexpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (22/10/2026). Prabowo mengatakan perlunya menyebut kepala daerah yang hadir supaya rakyat tahu.
‚¿'Untuk menghormati gubernur-gubernur yang hadir saya minta izin membacakan, gubernur dan wakil gubernur yang hadir. Ini penting supaya rakyatnya tahu, tapi yang tak hadir banyak pekerjaan di situ. Saya minta maaf kepada para bupati karena yang hadir 230 kalau satu satu saya bacakan nama saudara saya dimarahin oleh panitia," ujarnya.
Prabowo lantas mempertanyakan Gubernur Dedi Mulyadi yang tak hadir, namun diwakili wakil gubernur. Prabowo heran, posisi Dedi justru wilayah yang paling dekat dengan lokasi acara, tapi malah tak hadir.

"Kemana KDM? Yang paling deket nggak hadir, pasti sibuk," kata Prabowo. Prabowo lalu menyentil Wakil Gubernur Kalimantan Timur Seno Aji yang tidak ada saat dipanggilnya, padahal ada dalam daftar hadir.

Prabowo meminta untuk dicatat dan dikembalikan uang perjalanan."Waduh, dicatat ini uang jalan dikembalikan," ujarnya.

Adapun gubernur yang hadir adalah Gubernur Sumatera Barat, Gubernur DKI Jakarta, Gubernur Banten, Gubernur NTB, Gubernur Kalimantan Barat, Gubernur Kalimantan Utara, Gubernur Sulawesi Tenggara, Gubernur Sulawesi Utara, Gubernur Sulawesi Barat, Gubernur Kepulauan Babel, Gubernur Maluku, Gubernur Maluku Utara. Kemudian Gubernur NTT, Gubernur Papua Barat, Gubernur Papua Barat Daya, Gubernur Papua Selatan, Gubernur Papua pegunungan, dan Plt Gubernur Riau.Lalu wakil gubernur yang hadir ialah Wagub Jawa Barat, Wagub DIY, Wagub Sumatera Selatan, Wagub Kepulauan Riau, Wagub Aceh, Wagub Bengkulu, Wagub Lampung, Wagub Jatim, Wagub Bali, Wagub Kalsel, Wagub Gorontalo, Wagub Papua Tengah 

Rabu, 21 Oktober 2026

Kepung Kantor Dewan, Mahasiswa Desak Pemerintah Tetapkan Karhutla Jadi Bencana Nasional!


 Sejumlah mahasiswa dan masyarakat sipil di Jakarta dan beberapa kota di Indonesia menggelar demonstrasi pada Selasa (20/10). Unjuk rasa digelar bertepatan dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran.

Pada pagi hari, sekitar pukul 06.05 WIB, 11 aktivis Greenpeace membentangkan spanduk di atas Patung Selamat Datang, Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta. Usai menjalankan aksinya, mereka dibawa ke Polda Metro Jaya dan belum dibolehkan pulang hingga sekitar pukul 20.05 WIB.

"Saat ini, enam dari 11 orang yang tadi beraksi belum diperbolehkan pulang tanpa dasar hukum yang jelas," ujar Daniel Winatra dari Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD). Daniel menduga polisi mencoba mencari-cari pelanggaran hukum yang tidak ada. Ia berkata sempat diminta untuk menunggu proses pemeriksaan selama enam jam.

Para aktivis ini disebut menunggu Seksi Koordinasi dan Pengawasan Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Korwas reskrimsus) karena dugaan sementara terkait pelanggaran UU Cagar Budaya.Terkait hal ini, Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Pol Reynold E.P. Hutagalung berkata pihaknya akan mengecek rekaman CCTV di sejumlah titik dan meminta keterangan personel yang bertugas ketika peristiwa itu terjadi.

Menurut dia, ini diperlukan untuk melihat cara para aktivis tersebut bisa sampai di atas Patung Selamat Datang yang disebut sebagai cagar budaya. Saat berita ini ditayangkan, keenam aktivis Greenpeace tersebut telah dilepaskan oleh kepolisian.

Bagaimana situasi demonstrasi di berbagai kota?

Demonstrasi menjalar di Jakarta, di Yogyakarta, dan Bandung, Jawa Barat, pada hari yang sama. Di Jakarta, ratusan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi dan koalisi masyarakat sipil menggelar demonstrasi di Tugu Tani.

"Prabowo sudah gagal. Prabowo sudah gagal. Bowo-Gibran sudah gagal. Bowo-Gibran sudah gagal," ujar orator meneriakkan yel-yel diikuti massa aksi, seperti dilaporkan jurnalis BBC News Indonesia dari lokasi. Mereka membawa lima tuntutan di momentum dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran.

Pertama, para demonstran mendesak pemerintah menetapkan karhutla sebagai bencana nasional sekaligus memulihkan ekosistem terdampak. Kedua, mereka menuntut pemerintah memperbaiki tata kelola ekonomi yang berdampak terhadap pasar dan kehidupan masyarakat. Ketiga, mereka meminta pemerintah menghormati hak asasi manusia dan demokrasi. Alasannya, kata mereka, ruang sipil semakin sempit, termasuk akibat masuknya militer dalam berbagai urusan sipil.

Para pengunjuk rasa juga mengkritik berbagai kasus kriminalisasi terhadap warga yang berpendapat dan mengkritik.Keempat, mereka mendesak pemerintah memberantas korupsi, kolusi, dan nepotisme. Dan terakhir, mereka meminta pemerintah segera memperbaiki layanan pendidikan dan kesehatan demi kesejahteraan publik.

Salah satu peserta aksi, Nazhira dari BEM IPB mengeluhkan tingginya biaya hidup selama dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. "Sekarang terasa, untuk apa-apa harga barang naik semua. Sedikit-sedikit tapi lama-lama jadi bukit," katanya.Ia juga membandingkan uang jajan dua tahun lalu saat masih duduk kelas 11 SMA. Kata dia, dengan uang Rp100 ribu bisa untuk jalan-jalan, nonton bioskop, membeli makan dan minum.

"Kalau sekarang uang itu paling untuk ongkos dan nonton saja. Beli makan dan minum tidak bisa," katanya.Sekitar pukul 18.00 WIB, massa aksi yang berada di kawasan Tugu Tani menduduki salah satu patung paling ikonik di Jakarta Pusat. Mereka memampang spanduk besar berisi tuntutan terhadap dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran

Dua peserta aksi memanjat tugu sepasang petani dengan ketinggian sekitar 10 meter. Mereka dibantu peserta aksi dengan saling menyokong. Sementara itu ratusan orang menyaksikan aksi tersebut dengan memasang mata dan kamera secara takjub, seraya berteriak, "Revolusi! Revolusi!"

Setelah spanduk tuntutan berkibar satu per satu demonstran mulai meninggalkan lokasi aksi yang berlangsung sejak pukul 15.00 WIB.Di lokasi berbeda, puluhan mahasiswa juga berdemonstrasi di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, Selasa (20/10) siang.

Mereka membawa spanduk bertuliskan Rapor Merah 2 Tahun Tolak Rezim Fasis Prabowo-Gibran. Para demonstran mengajukan lima tuntutan, antara lain agar pemerintah segera menetapkan gelombang kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagai bencana nasional.

Para mahasiswa juga menuntut pemerintah segera mengadili korporasi yang bertanggung jawab terhadap karhutla, sekaligus memulihkan ekosistem yang terdampak.Mereka menuntut agar pemerintahan Prabowo segera membenahi tata kelola kebijakan ekonomi untuk memberantas ketimpangan nasional."Kami hari ini membawa isu ini karhutla. 2045 Indonesia emas. Tapi anak-anak di Kalimantan bernapas susah," kata Muamar, salah satu peserta unjuk rasa.

"Kami, atas nama mahasiswa dan masyarakat Kalimantan, menyatakan Prabowo dan Gibran telah gagal menyelesaikan masalah ini," katanya Demo di Jayapura Kelompok mahasiswa di Kota Jayapura, Provinsi Papua, mendesak Presiden Prabowo Subianto menetapkan karhutla sebagai bencana nasional. Mereka menyampaikan tuntutan itu acara bertajuk Mimbar Rakyat Papua, Selasa (20/10).

Stenly Dambujai, aktivis mahasiswa asal Papua Selatan, mengatakan kebakaran di sejumlah wilayah Merauke telah mengganggu aktivitas masyarakat adat yang bergantung pada alam untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Dia berkata, dampak karhutla juga mengancam kesehatan warga, terutama perempuan dan anak-anak.

"Ini memang sangat mengganggu kesehatan, terutama ibu dan anak-anak, karena pernapasannya ISPA," kata Stenly kepada wartawan Ikbal Asra.Menurut Stenly, pemerintah daerah di Tanah Papua hingga pemerintah pusat perlu terlibat langsung dalam penanganan karhutla. Dia meminta pemerintah mempercepat langkah penanganan karhutla, terutama di wilayah yang masih memiliki banyak titik kebakaran. "Kami harap mungkin dalam beberapa bulan ke depan ini harus ada penanganan cepat dan juga lebih spesifik ke daerah-daerah yang hari ini titik-titik apinya masih sangat banyak," ujarnya. "Kami rasa harus ditingkatkan atau dinaikkan sebagai status bencana nasional."

"Apa yang pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten buat? Apakah hanya soal Proyek Strategis Nasional?" kata Stenly.

Aliansi Mahasiswa Pemuda Peduli Lingkungan dan Hak Masyarakat Adat Papua, yang juga ikut serta dalam pertemuan warga ini, juga mendesak pemerintah menghentikan dan mengevaluasi Proyek Strategis Nasional.Mereka menilai proyek itu merusak lingkungan dan mengancam hak masyarakat adat, terutama di Papua Selatan. Tuduhan ini selalu dibantah oleh para pejabat tinggi di Jakarta.

Kelompok mahasiswa ini menyebut hutan di Papua semakin terancam ekspansi perkebunan, pertambangan, pembangunan infrastruktur, serta proyek pangan dan energi. Mereka mengutip laporan Greenpeace yang menyebut pembukaan lahan untuk PSN di Papua Selatan mencapai sekitar 36.000 hektare, dengan deforestasi sekitar 19.900 hektare hingga Oktober 2025.

Di Yogyakarta, ribuan mahasiswa protes karhutla 

Sejak pukul 12 siang, ribuan mahasiswa dari berbagai kampus menggelar demonstrasi dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, di gedung DPRD Provinsi Yogyakarta, Selasa (20/10).

Para mahasiswa tersebut berasal dari berbagai kelompok, termasuk Serikat mahasiswa UGM, UII Bergerak, Aliansi UMY Bergerak, BEM Nusantara DIY, HMI Cabang Yogyakarta, sampai Front Mahasiswa Nasional (FMN).

Mereka berorasi bergantian menyuarakan berbagai tuntutan masing-masing terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran. Troy Amirul Ahmad, dari Keluarga Mahasiswa Universitas Islam Indonesia, menyebut terdapat sekitar seribu rekan-rekan dari kampusnya yang mengikuti demonstrasi ini.

"Yang saat ini kami sedang sangat perhatikan adalah karhutla yang terjadi di berbagai titik di Indonesia," katanya pada jurnalis Furqon Ulya Himawan.Saya orang Sumatra, dan terdampak karhutla. Tapi pemerintah pusat dan anggota dewan hanya ongkang-ongkang," kata salah satu orator dari mahasiswa UII.Setelah berorasi, massa dari UII melanjutkan demo ke Titik Nol Kilometer.

 Di Makassar, mahasiswa memprotes karhutla

Puluhan mahasiswa Universitas Muhamadiyah Makassar berdemonstrasi di depan kantor Bina Marga Sulawesi Selatan, yang menjadi kantor sementara DPRD Sulsel, Selasa (20/10). Para peserta aksi yang tergabung dalam Aliansi Muhamadiyah Satu ini memprotes terkait beberapa isu, termasuk karhutla, kata Koordinator lapangan Aliansi Unismuh Satu, Agung.

Sebagai protes, mereka juga membakar dua ban bekas di depan gerbang masuk perkantoran.Hari ini kami datang ke kantor sementara Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sulawesi Selatan agar bisa menyampaikan tuntutan kami, kami menuntut usut tuntas dalang dibalik kebakaran hutan," ucap Agung.

"Yang paling penting juga hentikan deforestasi dan pengalihan fungsi lahan, karena hal ini yang dapat memperparah kebakaran hutan," ucapnya lagi. Demonstrasi mahasiswa di Makassar ini berlangsung dari siang. Hingga pukul 16.40 WITA, massa aksi masih bertahan di depan kantor DPRD Sulsel, untuk menunggu perwakilan legislator.

Sementara itu, sejumlah mahasiswa di beberapa titik aksi di Makassar, termasuk di bawah flyover Pettarani, juga melangsungkan demo dengan tagar #2tahuntidakpatuh.Demonstrasi di Bandung Di Bandung, sekelompok pesepeda Bandung juga melakukan unjuk rasa dengan tema "Mengayuh ke Istana" pada Selasa (20/10).

Sebelum berangkat ke Jakarta, mereka berkumpul di depan Gedung Merdeka, Jalan Asia Afrika Kota Bandung untuk berorasi dan menyatakan sikap.Dalam aksi ini, sebanyak empat orang pesepeda Bandung akan mengayuh sepedanya hingga Jakarta, sementara yang lain mengiringi hingga batas kota  Bandung-Cimahi.

Dalam perjalanannya, para pesepeda itu akan beristirahat dan bergabung dengan pesepeda lainnya di Purwakarta, Karawang, dan Bekasi.Para pesepeda ini menargetkan akan tiba di Istana Negara pada Kamis (22/10) untuk menyampaikan sejumlah tuntutan kepada pemerintah terkait karhutla. "Yang pertama, yang pasti kami menuntut untuk ditetapkannya status bencana skala nasional," ujar Kidung Saujana, koordinator Aksi Mengayuh ke Istana.

"Karena kebakaran bukan hanya terjadi di Kalimantan tapi juga di Sumatra, di Pulau Jawa, dan juga di Papua hari ini," kata Kidung. Kedua, mereka juga menuntut pengusutan kasus karhutla, termasuk pemeriksaan izin-izin usaha perusahaan yang terbukti bersalah. Tuntutan ketiga, lanjut Kidung, adalah revolusi tata cara penetapan status kawasan yang hingga saat ini masih mengadopsi status penetapan kawasan peninggalan Belanda.

"Yang keempat, kami menuntut semua kawasan-kawasan yang terbakar itu tidak dialihkungsikan. Jika itu awalnya hutan lindung, itu tetap hutan lindung. Jika itu kawasan konservasi, itu tetap konservasi dan tidak dialihkan, " tegas Kidung.Sementara itu, ratusan peserta demonstrasi, baik warga sipil dan mahasiswa, melakukan konvoi dari Jalan Asia Afrika ke Teras Braga Kota Bandung, Selasa (20/10).

Para demonstran membawa berbagai poster dan spanduk yang bertuliskan berbagai tuntutan, dari program MBG hingga sistem pajak untuk kelompok orang kaya di Indonesia. Isu karhutla di Kalimantan, Sumatra, dan Papua juga menjadi isu yang menjadi perhatian mereka. Beberapa orang mengangkat poster yang berbunyi "Indonesia dibakar bukan terbakar" serta "All eyes on karhutla".

"Kami juga membawa tuntutan tentang kebakaran hutan di Kalimantan. Kami merasa itu adalah dampak dari perluasan perkebunan sawit yang terus diperbolehkan oleh rezim Prabowo-Gibran untuk investasi dan korporasi asing, " kata Dedes, koordinator demonstrasi.Dalam 14 poin tuntutannya, peserta unjuk rasa mendesak pemerintah menaikkan status karhutla menjadi bencana nasional. Mereka juga mendesak pemerintah menindak perusahaan yang terlibat karhutla.

Keresahan soal kebakaran hutan juga diungkapkan Rida, mahasiswi yang ikut turun ke jalan.  "Seperti yang sudah kita alami saat ini, dari tahun pertama mereka menjabat hingga saat ini, keadaan Indonesia benar-benar kacau. Apalagi di Kalimantan, Sumatra, kebakaran di mana-mana. Itu semua dibakar hanya untuk sawit, " ucap Rida, kepada jurnalis Yuli Saputra.

Selain mahasiswa, kaum ibu juga turun ke jalan, turut menyuarakan keresahannya di dua tahun rezim Prabowo-Gibran. "Dua tahun yang seperti neraka, dua tahun yang penuh penderitaan, dua tahun yang terasa seperti dua abad. Harus berhenti sekarang dua tahun yang penuh penderitaan untuk semua, " kata Susan Angelika, seorang ibu rumah tangga berusia 45 tahun.Susan memprotes melambungnya harga kebutuhan pokok, kesempatan kerja yang semakin menipis, serta sumber daya alam dirampok dan hanya dinikmati oleh segelintir oligarki.

"Itu yang membuat Indonesia seperti neraka, " kata Susan.

Menurut Susan, karhutla yang terjadi di beberapa pulau di Indonesia, semakin membuktikan pemerintahan Prabowo-Gibran telah gagal.

Di samping isu karhutla, massa menuntut pemerintah untuk menghentikan program MBG, KDMP, dan proyek militer negara. Tuntutan lainnya di antaranya penghentian monopoli dan perampasan tanah rakyat berkedok ketahanan pangan dan transisi energi.

Demo di Aceh

Sekitar seratus orang anggota Front Mahasiswa Aceh Resistance berdemonstrasi di halaman kantor Gubernur Aceh, Selasa (20/10). ‎Dalam orasinya, para mahasiswa mengatakan bahwa aksi demonstrasi ini dipicu kekecewaan selama dua tahun kepresidenan Presiden Prabowo Subianto.‎Kelompok mahasiswa menilai Prabowogagal menangani berbagai permasalahan, termasuk penanganan bencana Sumatera pada 2025 dan karhutla yang kini semakin meluas.

"Seharusnya pemerintah menetapkan status bencana nasional, ini malah tidak melakukan, sehingga penanganan bencana tidak selesai sampai saat ini," kata Juru bicara aksi, yang minta disebut dengan inisialnya, H. Dia berkata, banjir bandang dan karhutla juga telah membuat sejumlah pihak di Aceh mengibarkan Bendera Bulan Bintang.

"Ini salah satu ekspresi dari perjuangan masyarakat Aceh yang masih kecewa dengan pemerintahan Prabowo-Gibran dan Gubernur Muzakkir Manaf - Zulfadli," ujarnya.Bagaimana respons pemerintah? Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI telah buka suara terkait rencana aksi demonstrasi yang digelar pada momentum dua tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran.

Kepala Bakom RI, Syahganda Nainggolan, merespons beberapa tuntutan dari para demonstrasi seperti kebakaran hutan dan lahan (karhutla), pasar modal dan kebebasan berpendapat, hingga penegakan hukum.

Soal karhutla yang didesak menjadi penetapan bencana nasional, kata dia, pemerintah masih mampu menyelesaikan sendiri pemerintah belum berharap keterlibatan negara lain,la menambahkan, pemerintah membuktikan keseriusan penanganan karhtula dengan menjatuhkan sanksi terhadap sejumlah korporasi yang melanggar aturan.

Selain itu, kata dia, pemerintah juga bekerja keras agar kebutuhan dasar seperti pangan dan pelayanan kesehatan serta sistem belaiar online (PJJ)te Salin URLerkecil ketebalan asap di jalan-jalan Kedua, tentang kepercayaan pasar khususnya pas modal. Syahganda menjelaskan pemerintah telah mengambil tindakan tegas terhadap pelaku-pelaku curang di pasar modal.

Kepolisian RI juga berusaha untuk memeriksa skandal terkait MSCI agar kepercayaan investor tetap tinggi dan MSCI mempertimbangkan rencananya menurunkan peringkat bursa kita ke level standalone,i tegasnya Lebih lanjut, ihwal tuntutan mengenai kebebasan berpendapat, Bakom menyatakan hal itu merupakan bagian demokrasi.

Pemerintah hanya membatasi perusak-perusak demokrasi yang menodai tata krama dan keharmonisan bangsa. Perusak demokrasi antara lain adalah kelompok kelompok yang bersembunyi di sosial media, misalnya, sambil melakukan kampanye negatif dan vulgar," katanya.

Terkait pemberantasan korupsi, dia memastikan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, penegakan hukum dipastikan berjalan objektif. Kepala Negara secara terbuka telah mempersilakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memproses hukum siapa saja di dalam jajaran pemerintahannya jika terbukti melakukan pelanggaran atau tindak

pidana korupsi.pendidikan Presiden memastikan anak anak terlantar harus bersekolah. Sehingga beliau membangun sekolah Rakyat di berbagai daerah. Demikian pulan sektor kesehatan, program cek up gratis lebih dari 100 juta penduduk," tutur Syahganda.