Isak tangis keluarga dan kerabat mengiringi prosesi pemakaman co-pilot pesawat Smart Air, Baskoro Adi Anggoro, yang tewas ditembak di Bandara Korowai Batu, Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan, Rabu (11/2/2026). Peti jenazah Baskoro tiba di tempat peristirahatan terakhirnya di TPU Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Jumat (13/2/2026) dan disambut keluarga serta kerabat yang telah menanti.
Sejumlah pelayat mengenakan pakaian serba hitam sebagai tanda duka. Di barisan terdepan, kedua orangtua dan adik perempuan Baskoro tampak mengenakan busana putih, duduk berdampingan sambil menahan tangis
Saat pendeta memulai ibadah pelepasan, suasana hening menyelimuti area pemakaman.
Doa-doa dipanjatkan untuk mengantar kepergian Baskoro. Sesekali, tangis pecah dari bangku keluarga
Tangis semakin tak terbendung ketika pendeta mempersilakan tim pemakaman menurunkan peti jenazah ke liang lahat. Kedua orangtua Baskoro saling menggenggam tangan, berusaha tegar menyaksikan momen perpisahan tersebut.
Setelah peti perlahan tertutup tanah, keluarga dan pelayat satu per satu menaburkan bunga serta melemparkan segenggam tanah sebagai penghormatan terakhir. Pilot Kebanggaan Mama Ibu Baskoro, Tryana, tak kuasa menahan tangis saat menyampaikan pesan terakhir untuk putranya. Dengan suara bergetar, ia berdiri di sisi liang lahat sebelum proses penimbunan dimulai.
Selamat jalan kapten pilot kebanggaan mama, Baskoro Adi Anggoro. Kita berpisah di sini, nanti kita bertemu di surga kembali," kata ibunda Baskoro, Tryana dengan meneteskan air mata. Bagi keluarga, Baskoro bukan hanya seorang pilot.
Ia dikenal sebagai sosok humoris yang selalu menghadirkan tawa setiap kali keluarga besar berkumpul.
Selamat jalan Baskoro, saya cinta kamu," kata ibu Baskoro Tryana sembari melambaikan tangan dan mencium jauh. Berharap Ada Evaluasi Pengamanan Bandara Keluarga berharap pemerintah mengevaluasi pengamanan bandara pascakejadian penembakan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB). Adik korban, Hapsari, mempertanyakan prosedur pengamanan di bandara.
Saya sebenarnya menyerahkan itu ke pihak yang berwenang ya. Karena mungkin ya... lebih tepatnya mungkin karena keluarga kami lagi berduka ya, kami enggak bisa berpikir jernih dan segala macam," kata Hapsari. "Kami hanya ingin mungkin pihak-pihak yang bersangkutan dengan kami itu bisa mengevaluasi lebih dahulu gitu ya, mengenai protokolnya, mengenai prosedurnya, mengenai aturannya apakah sudah sesuai. Gitu aja sih dari kami," lanjut Hapsari. Ibu Sempat Ragu Baskoro ke Papua Orangtua Baskoro sempat merasa ragu ketika anaknya mendapat penugasan terbang ke Papua sebelum akhirnya tewas dalam insiden penembakan di Bandara Korowai Batu.
Hal itu disampaikan paman Baskoro, Doni (56). Ia mengatakan keponakannya telah bekerja sebagai penerbang di maskapai Smart Air selama lima tahun
Namun, penugasan ke Papua baru diterima beberapa hari terakhir. “Kalau di Smart Air sudah lima tahun. Sebelumnya memang sudah pernah terbang (ke Papua), tapi kebetulan sudah lama tidak ke Papua,” kata Doni.
Menurut Doni, Baskoro sempat dirawat di rumah sakit beberapa waktu lalu karena sakit. Tak lama setelah pulih, ia langsung mendapat penugasan ke papua.
Dia habis sakit, sempat opname. Terus tiba-tiba dapat tugas ke Papua. Mungkin enggak sempat berpikir panjang, langsung berangkat saja. Orang tuanya sempat tanya, ‘Aman enggak?’ Dia jawab, ‘Aman’. Katanya sudah pernah, tapi ternyata bandaranya berbeda,” ujar Doni












